Perubahan Iklim dengan Energi Fosil dan Conundrum Global

Sebagai pengantar kata Conundrum bermakna Teka-Teki; Conjecture dipahami sebagai dugaan sedangkan Clue bermakna petunjuk. Dalam fenomena Perubahan Iklim yang selalu dikaitkan dengan ancaman kehidupan manusia,. pasca Konvensi Perubahan Iklim di Paris 2015 diusung tema Transisi Energi sebagai kiat mengurangi emisi karbon global. Pengurangan atau eliminasi emisi sebagai sasaran sehingga pada 2050 diharapkan dunia tanpa emisi atau Zero Carbon. Pada 2021 International Energy Agency (IEA) menerbitkan dokumen : Net Zero by 2050: A Roadmap for the Global Energy Sector, negara-negara di dunia diharapkan memadukan langkah agar target NZE dapat terwujud pada 2050.
Ditengah upaya mewujudkan NZE, porsi energi fosil (batubara, minyak, gas bumi) dalam bauran energi global pada 2015 berada pada kisaran 85% dan dipandang sebagai sumber bahkan biang kerok atau sumber utama emisi sehingga mengeliminasi konsumsi energi fosil menjadi sasaran utama demi keberhasilan dan perwujudan NZE. Namun muncul pertanyaan : Mungkinkah mengeliminiasi energi fosil karena faktanya porsi tersebut hingga 2024 tidak bergeser seperti diberikan pada peraga berikut ini
Baca Juga : Saatnya Penyegaran Pimpinan Intelijen Negara
Dari Peraga-1 porsi energi fosil sejak 2015 tidak ada pengurangan; apakah dalam dekade mendatang akan terjadi perubahan atau pengurangan ? Demikianlah Conundrum Energi yang dihadapai global.
Energi Fosil dan Global Trade
Pada masa 2024 nilai total global trade sebesar USD 33 Triliun dan 15% dari nilai tersebut berkaitan dengan energi fosil baik goods maupun services. Sebagai gambaran nilainya mencapai hampir USD 5 Triliun.
Dengan asumsi 80% dari nilai tersebut digunakan untuk spending dalam global trade maka secara agregat nilainya menjadi USD 9 Triliun (USD 5 T + USD 4 T). Andaikan perdagangan barang dan jasa energi fosil berkurang 50% maka secara sederhana dampaknya sebesar USD 4.5 T atau sekitar 15% dari nilai global trade. Dapat dibayangkan akibat pengurangan pada perekonomian global dengan membandingkan masa Pandemi COVID-19 pada 2020 nilai perdaganan global turun 10%.
Dampak pada negara pengekspor energi fosil apabila terjadi pengurangan hingga 50% dipastikan negara pengekspor yang berada di Afrika, Amerika Selatan, Asia Tengah, Afrika Utara akan mengalami gejolak atau ketidakstabilan dan akan diterpa dampak kemiskinan (poverty) dan kelaparan (starvation) yang berimplikasi terhadap kehidupan dan kemanusiaan. Lantas muncul dilema : Antisipasi Perubahan Cuaca dengan mengusung Ekonomi Hijau atau Mempertahankan Energi Fosil yang akan menuai emisi dan konon meningkatkan risiko perubahan iklim.
Jawabannya bukan semata dengan mitigasi risiko tetapi bagaimana membuat sketsa masa mendatang dengan berbagai kemungkinan dalam kondisi ketidakpastian yang berdampak tekanan atau depresi perekonomian; apapun pilihannya but the show must go on not go wrong.
Praduga dan Panduan Menuju Masa Depan dengan Energi Bersih dan Masif
Dalam menyusun langkah yang berkaitan dengan energi dan dampak Perubahan Iklim tidak semata menggunakan data historis masa lalu tetapi memmbutuhkan kejelian untuk membaca perubahan yang bakal terjadi dengan berbagai risiko serta implikasinya. Energi dipahami sebagai faktor utama dalam pertumbuhan ekonomi yang diupayakan demi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran. Tetapi pada sisi lain belajar dari krisis energi pada dekade 1970an, Dessert Storm perang Irak dekade 1990an dan terakhir invasi Rusia ke Ukraina yang menimbulkan badai energi di Eropa; perlu menggunakan metrik atau ukuran seperti ketersediaan (availability), kepastian dan jaminan (assurity), keterjangkauan (affordability) yang secara keseluruhan dapat diposisikan dalam ukuran ketahanan energi (energy resiliency). Berbagai model bauran sudah digunakan dan salah satu yang dipandang new wave adalah bauran energi negara Eropa khususnya EU (European Union). Pada saat ini ceruk energi hijau atau energi terbarukan sudah mencapai sekitar 35% namun berdasarkan fenomena yang terjadi di beberapa belahan EU terdampak banjir seperti di Spanyol atau gelombang panas (heat wave) yang berimplikasi kekeringan (drought) yang merupakan dampak perubahan iklim.
Sepertinya pandangan untuk mengandalkan energi hijau seperti solar & wind tidak menghadirkan ketahanan. Sementara prasyarat penyediaan energi membutuhkan pasokan yang masif dan langgeng dengan pilihan seperti pada Peraga-2.
Dari perjalanan pasca konvensi Paris 2015 upaya peningkatan porsi Renewable Energy sulit dan lamban.
Mungkin dikotomi Non & Renewable sudah tidak tepat tetapi mengarusutamakan hal Ketahanan Energi. Dari berbagai pilihan yang tersedia dengan pertimbangan energi bersih yang mengeluarkan emisi rendah atau bahkan tiada menjadikan energi nuklir sebagai Primus Interpares alias pilihan utama. Namun selalu energi nuklir dikaitkan dengan penggunaan senjata nuklir sementara secara luas nuklir digunakan juga untuk medis, agrikultur, penyediaan air (desalienasi) yang juga merupakan ancaman dan tantangan terhadap kehidupan manusia seperti yang diusung oleh PBB (United Nations) dengan sebutan Nexus FEW (Food Energy Water).
Dengan memperhatikan uraian di atas dan mempertimbangkan berdasarkan dugaan (conjecture) serta petunjuk atau panduan (clue) terhadap peningkatan konsumsi energi yang sejalan dengan peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran maka pilihan penyediaan energi yang masif merupakan prasyarat dan energi nuklir merupakan piihan utama.
Sebagai catatan, secara global dengan memperhatikan porsi PDB, energi nuklir menjadi pilihan dalam penggunaan dengan mengingat 17 dari 20 anggota G20 yang porsi PDB hampir 85% PDB global (jumlah pengguna energi nuklir akan bertambah dengan Arab Saudi) dan berhasil menjadi negara maju dengan tingkat pendapatan tinggi (High Income). Menuju Indonesia Emas 2045 dengan lolos Pendapatan Menengah (Exit Middle Income Trap), penggunaan energi nuklir merupakan prasyarat.**
Komentar Via Facebook :